Bolehkah Membedong Bayi?

By | Juli 15, 2019

Bolehkah Membedong Bayi? Membedong bayi tak hanya dilakukan masyarakat Indonesia. Tradisi ini dilakukan bebuyutan oleh masyarakat di Asia. Para orang bau tanah tampaknya merasa besar hati kalau berhasil ‘membungkus’ anak dengan rapi dan erat. Bahkan, hingga menutup penggalan kepalanya, menyerupai menggunakan hoodie. Konon, cara ini dilakukan untuk mencegah kaki anak menjadi bengkok saat ia besar nanti. Selain itu, membedong juga diyakini sanggup menghangatkan bayi, mencegah bayi kagetan, dan menciptakan bayi tidur lebih nyenyak. Tapi, benarkah begitu?

American Academy of Pediatrics menyebutkan manfaat bedong pada bayi, ialah menciptakan bayi dan orang tuanya tidur baik di malam hari. Biasanya, di bulan pertamanya, bayi akan sering terbangun di malam hari sebab haus untuk minum ASI. Pada bayi yang dibedong, mereka akan kembali tertidur dengan gampang sehabis kenyang disusui. Ya, membedong bayi memang terbukti secara klinis sanggup menciptakan bayi nyaman. Membedong mengingatkan bayi pada daerah yang familiar baginya: Rahim mama. Selain itu bedong juga membantu bayi terhindar dari hipotermia atau kedinginan. Lalu, bagaimana dengan bentuk kaki O yang dikhawatirkan orang tua? Pendapat tersebut salah kaprah, Ma. Sejak lahir, bentuk kaki bayi memang membentuk aksara O.

Tapi, tidak usah khawatir, sebab memasuki usia 6 bulan, kakinya akan mengalami pertumbuhan dan akan lurus dengan sendirinya. Membedong bayi terlalu kencang justru sanggup menghambat pertumbuhan tulang dan mengakibatkan dislokasi panggul, terutama kalau dilakukan pada bayi di atas usia 1 bulan yang sedang berguru bergerak. Selain itu, bayi juga berisiko mengalami hipertermia atau kepanasan kalau dibedong terlalu akrab menggunakan kain tebal.