Ini Hukum Anak Pakai Gadget

By | Juli 15, 2019

Dalam lima belas tahun terakhir, dunia teknologi isu telah berkembang begitu cepat. Di sekeliling Anda, hampir semua anak dari aneka macam usia begitu fasih memegang, mengoperasikan, atau berkawan dengan gadget di mana saja. Televisi, internet, komputer, video game, ponsel pintar, semua sangat menarik perhatian anak-anak. Sepuluh tahun lalu, pemandangan itu tidak terlalu umum menyerupai sekarang. Televisi di ruang tunggu, orang renta yangmenggunakan gadget untuk bekerja ialah hal-hal masuk akal yang menciptakan anak anak terpapar gawai semenjak dini.

Menurut American Association of Pediatrics (AAP), kini bawah umur menghabiskan rata-rata tujuh jam sehari untuk memakai media, termasuk televisi, komputer, telepon, dan alat elektronik lain. Padahal, penelitian memperlihatkan bahwa penggunaan media sering merujuk kepada persoalan memusatkan perhatian, kesulitan belajar, gangguan tidur dan makan, serta obesitas. Akses internet dan ponsel akil yang tak terbatas juga memberi ruang bagi bawah umur untuk menampilkan sikap yang berisiko.

Oleh lantaran itu, pada 2001 AAP mengeluarkan panduan untuk mengedukasi orang renta mengenai efek media bagi anak, baik dari segi jumlah waktu yang dipakai untuk mengakses media maupun isi media tersebut. Dalam pernyataan AAP, orang renta diimbau mencegah anak yang belum berusia 2 tahun menonton televisi atau memakai gadget, dan membatasi bawah umur di atas 2 tahun hanya memakai gawai maksimal 2 jam sehari. Namun pada Oktober 2015, AAP mengeluarkan panduan gres mengenai penggunaan media bagi anak-anak. Panduan gres AAP itu menghilangkan pembatasan waktu mengakses media bagi anak-anak, namun lebih banyak mengatakan saran wacana bagaimana seharusnya orang renta menyikapi penggunaan media pada anak anak mereka.

Hilangnya pembatasan waktu untuk mengakses media itu mengakibatkan banyak kontroversi di antara para hebat psikologi dan kesehatan anak. “Saya sangat menyayangkan lantaran kenyataan di lapangan sehari-hari cukup banyak memperlihatkan bahwa bawah umur yang mengalami keterlambatan tumbuh kembang, menyerupai terlambat bicara atau gangguan sosial emosional lain, ditengarai lantaran orang renta terlalu dini mengenalkan dan membiasakan anak memakai gawai,” papar Irma Gustiana A., M.Psi., Psi, psikolog anak dan keluarga dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia.

Akibat jangka panjang paparan media terhadap bawah umur usia batita memang menjadi kekhawatiran utama banyak hebat psikologi maupun kedokteran anak. Meski banyak program, acara televisi atau aplikasi mengaku bersifat edukatif, ternyata semua itu tidak memperlihatkan manfaat saat diberikan kepada batita. Hal itu lantaran batita masih menyebarkan kemampuan dan rentang perhatian, serta memahami alur cerita.

Apalagi, ada kalanya orang renta memasang televisi sebagai kebiasaan, tanpa memerhatikan apakah anak sedang menontonnya atau tidak. Agar tidak terlalu sepi, televisi sering dibiarkan menyala, sementara bawah umur bermain di sekitarnya. Padahal, penelitian mengambarkan bahwa latar belakang bunyi dan cahaya dari televisi sanggup memengaruhi pemrosesan informasi, ingatan, dan kelak pemahaman bacaan pada anak. Suara dan cahaya dari layar televisi atau gadget lain pun menciptakan otak anak tidak bisa beristirahat. Anak menjadi tak bisa tidur dan waktu tidurnya menjadi tidak teratur. Kebiasaan tidur yang kurang baik bisa mengakibatkan gangguan mood atau sikap anak.

Akibatnya, dalam jangka pendek, batita yang lebih banyak menonton televisi atau memakai gadget mengalami keterlambatan bahasa ekspresif, dan bayi yang banyak menonton televisi sendiri mempunyai kemungkinan lebih besar dalam keterlambatan berbahasa. Dan biasanya, saat balita dan anak tetap terpapar media dalam jumlah besar, mereka menjadi anak anak yang lebih sedikit bermain kreatif, lebih sedikit membaca, dan lebih sedikit berinteraksi dengan orang renta atau abang dan adiknya.

Oleh lantaran itu, orang renta perlu menyadari bahwa waktu bermain bebas amat penting bagi anak untuk mencar ilmu keterampilan memecahkan persoalan dan mendorong kreativitas. “Selain mencar ilmu melalui gadget, orang renta juga dilarang lupa atas kiprah perkembangan anak lain, menyerupai mencar ilmu kemandirian dan tanggung jawab, yang tentu saja harus dipelajari di dunia nyata,” tambah Irma.

Jadi, meskipun panduan gres yang dikeluarkan oleh AAP tampak membiarkan bawah umur dan batita memakai gadget dan terpapar media, Anda harus sepenuhnya menyadari dan mempelajari efek paparan media kepada bawah umur tersebut. Mama sebagai orang renta harus berperan aktif mencar ilmu melek media bahu-membahu bawah umur dan tetapkan batasan-batasan yang sehat.

Membatasi waktu menonton atau mengakses media, yang dikenal dengan screen time, dan memperlihatkan bentuk bentuk kegiatan, serta sumber isu yang beragam, sanggup menjadi cara orang renta membantu bawah umur memahami pengalaman mereka memakai media. Tak sanggup dipungkiri lagi, literasi media menjadi keterampilan yang penting dimiliki di masa mendatang.

Irma menekankan, “Digital diet itu penting. Artinya, anak di masa digital memang membutuhkan kesempatan beraktivitas dengan perangkat elektronik dan medianya. Anak mungkin akan perlu berselancar di internet mencari isu untuk kiprah sekolah, atau memakai video call untuk bercakap-cakap dengan orang renta yang sedang bertugas ke luar kota. Namun, orang renta harus ingat dan menerapkan keseimbangan kegiatan yang lain.

Anak harus punya waktu berinteraksi dengan orang lain, bermain bebas yang aktif dan kreatif. Pada anak usia kurang dari 2 tahun, kok, tampaknya tidak ada manfaat yang benar-benar penting untuk mengenalkan mereka dengan gadget, ya? Menurut saya, sebaiknya orang renta fokus kepada tumbuh kembang anak melalui bermain yang memfungsikan seluruh panca indranya.”