Bagaimana Menghadapi Anak Pemarah

By | Juli 16, 2019

Sebagai orang tua, kita mungkin sering mengeluhkan sikap belum dewasa yang kurang sesuai dengan impian kita. Walaupun bila ditilik lebih jauh, bekerjsama orang tualah yang memiliki efek besar terhadap perkembangan sikap anak tersebut. Di antara sikap anak yang sering kita dapati yakni lancang (berani melawan orang tua) dan pemarah.

Dalam menyikapi hal ini, diharapkan pendidikan yang sempurna terhadap anak, terutama pendidikan terhadap keseimbangan emosi anak. Sebagai orang tua, sudah seharusnya memahami cara mendidik anak dengan baik. Dalam goresan pena ini, ada tujuh metode yang akan membantu orang bau tanah dalam mendidik anak, terutama untuk menghilangkan sikap lancang, pemarah dan sikap negatif lainnya pada sang anak dengan pendidikan dan sikap yang kasatmata dari orang tua.

1. Melatih anak mengungkapkan isi hatinya

Orang bau tanah hendaknya mengajarkan kepada anak bagaimana mengungkapkan isi hatinya dengan kata-kata. Karena terkadang anak menentukan mengungkapkan isi hatinya dengan perilaku-perilaku yang tidak baik, contohnya marah-marah, berteriak, menggigit kuku, merobek baju dan sikap negatif lainnya sebagai bentuk ungkapan isi hati mereka. Oleh lantaran itu, orang bau tanah sudah seharusnya mengajarkan kepada anak, bagaimana mengungkapkan isi hati mereka dengan berbicara baik-baik.

2. Memberikan pujian

Ketika anak sudah bisa mengungkapkan isi hatinya yang sedang kesal dengan pembicaraan yang baik, sebaiknya kita memperlihatkan kebanggaan kepadanya. Selain itu kita juga terus membantunya untuk mengungkapkan perasaannya, terutama perasaan-perasaan negatif ibarat kesal, jengkel, marah, iri. Perilaku orang bau tanah ibarat ini jauh lebih baik dari pada sekedar membisu atau bahkan malah memarahi si anak.

3. Mengabaikan kemarahan si anak

Mengabaikan kemarahan si anak, bukan berarti kita tidak memperdulikan mereka, akan tetapi ketika anak mulai murka sebaiknya kita tidak buru-buru memperlihatkan perhatian. Karena, bila si anak menerka bahwa kemarahannya bisa menarik perhatian kita, maka anak akan semakin sering melakukannya. Hal yang perlu dilakukan orang bau tanah yakni dengan mendatangi si anak yg sedang murka tadi, kemudian menjelaskan bahwa bukan kemarahan anak yang menciptakan orang bau tanah jadi perhatian, tetapi ada hal penting yang harus dibicarakan antara orang bau tanah dan anak. Dengan ini diharapkan si anak akan terlupa dari marahnya dan beralih ke obrolan dengan orang tua.

4. Tegas

Jika si anak tetap dalam sikap lancang atau marah, satu waktu orang bau tanah juga harus bersikap tegas kepada anak, tetapi dengan sikap hening dan tidak marah-marah. Karena, bila orang bau tanah menasehati anak untuk tidak marah, tetapi ia sendiri dalam keadaan marah, anak justru sulit untuk mendapatkan hikmah itu. Dalam memberi nasihat, orang bau tanah seharusnya juga memberi pola langsung.

5. Jangan menghukum anak

Ketika anak terus-menerus murka atau bersikap lancang, sebaiknya orang bau tanah tidak menghukumnya. Tetapi, orang bau tanah harus terus-menerus memperlihatkan instruksi dan hikmah sekaligus memperlihatkan anak kesempatan untuk mengungkapkan kekesalannya. Orang bau tanah juga membantu anak untuk mengungkapkannya, bisa lewat obrolan atau lainnya, sehingga anak bisa dengan gampang mengungkapkan apa yang sedang dipikirkannya. Bagi orang tua, lebih elok lagi bila sering-sering mengungkapkan perasaan sayangnya ke anak.

6. Permainan menahan emosi

Sebagai orang tua, hendaknya membiasakan diri untuk memperlihatkan anak permainan-permainan yang dengannya belum dewasa bisa dilatih untuk mengatur emosi mereka. Misalnya, dengan memperlihatkan bintang (nilai) kepada anak yang bisa menahan emosi mereka pada dikala yang bekerjsama hal itu gampang menciptakan mereka marah. Kemudian memperlihatkan dua bintang untuk anak yang sudah marah, tetapi bisa meredam amarahnya dengan mengungkapkan kemarahan itu melalui kata-kata atau dialog. Dan permainan-permainan lainnya yang pada pada dasarnya sanggup melatih belum dewasa bagaimana mengungkapkan kemarahan dengan cara yang benar.

7. Berikan pemahamam akan hakikat marah

Kemudian, orang bau tanah hendaknya selalu menanamkan pemahaman kepada anak, bahwa seorang yang besar lengan berkuasa yakni orang yang bisa menahan dirinya, sebagaimana sabda Nabi saw, “Kekuatan bukanlah (dilihat) dari (cara dia) bergulat, akan tetapi kekuatan yakni barangsiapa yang bisa menahan dirinya ketika marah.” (Al Hadits) Orang bau tanah harus menanamkan makna hadits ini serta mengingatkan mereka bahwa kejahatan pertama dalam sejarah umat insan yakni terbunuhnya Habil di tangan Qabil. Salah satu sebabnya yakni lantaran Qabil mengungkapkan kemarahannya dengan cara yang salah, dan kesudahannya hanya menjadikan penyesalan, sebagaimana pepatah Arab mengatakan, “Marah, diawali dengan kegilaan dan di akhiri dengan penyesalan.” Anak-anak juga harus diajarkan bagaiman mengatur amarah mereka dengan Isti’adzah, berwudhu dan merubah posisi dari bangun ke duduk dan seterusnya sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi saw.
Dari pengalaman beberapa orang, ada beberapa cara untuk menghilangkan murka pada anak. Salah satu orang bau tanah memperlihatkan cermin kepada anaknya yang sedang murka dan berkata kepadanya, “Coba lihat wajahmu di cermin!” Setelah beberapa saat, anak pun berhenti murka bahkan malah tertawa.
Cara lain yang dilakukan salah satu orang bau tanah adalah, ketika anak murka orang bau tanah menciptakan sebuah garis di atas kertas yang di gantung di dinding, bila sang anak tidak jadi marah, maka orang bau tanah menghapus garis tersebut, begitu setersunya hingga anak akan melihat sendiri betapa seringnya ia marah.
Ada juga seorang ayah yang menciptakan janji dengan anaknya, bahwa ketika sang anak murka ia akan mengungkapkan kemarahannya itu dengan menulis dikertas. Lain lagi dengan orang bau tanah yang menghadapi kemarahan anaknya dengan hal-hal yang lucu. Cara-cara di atas terbukti bisa mengendalikan amarah pada beberapa anak, tentunya setiap anak akan berbeda pula penanganannya.
Dari beberapa cara di atas, hal yang dihentikan kita lupakan sebagai orang bau tanah yakni senantiasa memahamkan kepada anak, kapan, di mana dan kepada siapa murka itu boleh dilakukan. Jika anak bisa mencapai tahapan ini dalam mengatur emosi mereka, maka inilah yang dinamakan “Kecerdasan Emosional.” Hal ini sangat penting untuk menjaga kesehatan mental belum dewasa dan dengan melaksanakan cara-cara di atas, diharapkan anak kita bisa mencapai “Kecerdasan Emosional”.

dikutip dari http://www.arrahmah.com